RSS

Heru Sukoco, Ikan Hias dan Tantangan Ekspor Luar Negeri



Oleh : Rizal Dzikri

Sebagai seorang mahasiswa baru pertanian, saya melakukan penelitian baik berupa kajian pustaka dan juga melakukan wawancara langsung dengan salah seorang narasumber yang berasal dari bidang pertanian atau perikanan. Dalam wawancara ini saya tidak sendiri namun bersama teman-teman yang tergabung dalam kelompok jeruk (21) saat PPSMB ORGANIK di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Berikut artikel yang saya buat dengan otak dan tangan saya sendiri. Check this out ..

Yogyakarta, bukan hanya terkenal dengan kota budayanya dan kota pendidikan yang mencetak begitu banyak manusia-manusia berilmu, namun Yogyakarta juga merupakan kota  metropolis layaknya ibukota Jakarta. Kegiatan ekonomi berkembang pesat di kota yang dijuluki sebagai daerah istimewa ini. Beragam kegiatan usaha seperti perdagangan, pertokoan, industri, pertanian, dan terutama bidang perikanan yang berkembang pesat.
Dunia perikanan kini telah mengalami pasang surutnya. Namun tetap memberikan keberkahan bagi siapapun yang benar-benar pandai dan gigih menggelutinya. Dunia perikanan bukanlah dunia baru bagi masyarkat Indonesia. Tidak hanya terfokus pada perikanan yang ada di laut seperti nelayan yang menghasilkan ikan-ikan siap konsumsi, namun juga perikanan seperti budidaya ikan hias yang saat ini tengah marak dan digemari masyarakat Indonesia dan di dunia. Banyak pecinta ikan hias yang memburu ikan-ikan  dari berbagai spesies dan dari berbagai daerah di dunia. Beragam bentuk, jenis dan warna inilah yang membuat orang-orang hobi memelihara ikan sebagai hewan penghilang stres di rumah mereka.  Momen ini oleh sebagian orang kemudian dijadikan sebagai motif ekonomi untuk berwirausaha dengan membudidayakan ikan hias yang laku di pasaran Indonesia dan Internasional.
Adalah Bapak Heru Sukoco, lelaki yang saat ini berumur 40 tahun ini adalah satu dari sekian banyak orang yang mengadu hidupnya pada ikan-ikan hias. Ia telah lama menggeluti bisnis ikan hias ini. Ia mengaku banyak sekali suka-duka yang ia rasakan dalam menjalani pekerjaannya yang ia lakukan dengan setulus hati.
“suka dukanya banyak sekali. Sukanya saat banyak ikan yang terjual dan laku keras. Sedang dukanya adalah saat listrik mati dan mengganggu alat oksigen dalam akuarium yang bisa menyebabkan banyak ikan-ikan mati. Pernah suatu hari, ikan saya banyak yang mati karena malamnya mati lampu. Juga saat sepi-sepinya pembeli.” Jawab bapak Heru Sukoco polos saat tim Jeruk mewawancarai di tempat kerjanya.
Bagi Bapak Heru Sukoco, budidaya ikan hias bukan hanya sekedar bisnis dan mencari banyak keuntungan, bagi beliau budidaya ikan hias adalah hobi dan penghilang stres. Tentu saja ikan-ikan hias yang dipelihara di akuarium rumah dapat menghilangkan kepenatan setelah seharian menghabiskan waktu di luar rumah. Ada sensasi sendiri saat menyaksikan ikan-ikan hias berenang kegirangan di antara batu karang dan rumput buatan di dalam akuarium. Apalagi saat kita memberi mereka makanan, dengan cepat ikan-ikan hias itu pasti akan segera berebut makanan. Kadang hati kita yang sedang kacau akan berubah membaik dan positif setelah menyaksikan ikan-ikan tersebut bertingkah lucu.
Harga setiap ikan-ikan hias sangat bervariasi. Ada yang murah dan ada pula yang mahal dan harus mengeluarkan kocek sangat dalam. Namun, akan sebanding dengan kesenangan yang akan kita dapatkan, apalagi bagi seorang kolektor ikan hias dan pecinta ikan hias itu sendiri.
“Harga ikan-ikan hias bervariasi. Tergantung dari selera orang. Namun hampir semua ikan hias diminati” jawab bapak  Heru Sukoco dengan ramah.
“Rata-rata harga ikan hias yang saya jual adalah Rp. 2000 sampai Rp.300.000” lanjut beliau menerangkan dengan antusiasnya.
Bagi Bapak Heru Sukoco, yang penting adalah menjalani pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan menyenangi apapun yang kita lakukan. Tidak usah memikirkan berapa keuntungan yang akan kita dapat.
“Bagi saya keuntungan nomor dua, yang nomor satu adalah kesenangan dan hobi. Alhamdulillah dengan usaha ikan hias ini saya bisa menghidupi keluarga saya dan menyekolahkan anak saya. Semoga bisa sampai sarjana sama seperti adek-adek sekalian, hehe..” kata Bapak Heru Sukoco berusaha menghibur.
Memang bisnis ikan hias tidak akan ada habisnya, banyak sekali peminat ikan hias di Indonesia dan dunia. Bisa dibilang bisnis ini tidak akan ada matinya. Selalu saja bermunculan tren-tren baru di pasar ikan hias di dunia, dari beragam spesies dan dari berbagai daerah di seluruh dunia yang tentu saja memiliki keanekaragaman yang unik.
“Ada berbagai macam ikan hias. Saya membudidayakan ikan nila, koi dan lele” kata beliau sambil memperlihatkan ikan-ikan budidayanya.
“Peminat ikan juga berbeda-beda. Ada yang suka ikan lohan dan molly. Peminat ikan lohan dan molly adalah terbanyak. Dan ikan hias yang paling mahal adalah ikan hias arwana super red yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta” lanjutnya.
Bagi seorang kolektor pemula yang ingin memelihara ikan hias, sebaiknya mulailah mengoleksi ikan dengan harga yang murah dahulu. Selain harganya yang tidak terlalu mahal, namun juga karena perawatannya tergolong sangat mudah bila dibandingkan dengan ikan yang harganya sangat mahal.
Menurut pernyataan Bapak Heru Sukoco, memelihara ikan hias memang susah-susah gampang. Dibutuhkan kesabaran, keuletan dan perawatan serta pembersihan secara rutin, contohnya dengan perawatan mesin penghasil oksigen dalam air untuk bernapasnya ikan, pemberian makanan secukupnya, jangan sampai memberikan makanan berlebihan karena jika makanan itu tidak habis dimakan ikan akan menjadi jamur. Satu kali seminggu harus diganti airnya, dan juga volume serta suhu air dalam akuarium juga mempengaruhi kehidupan ikan-ikan hias.
Bapak Heru Sukoco bukanlah seorang mahasiswa, ia hanya lulus sekolah menengah pertama. Ia mulai menggeluti budidaya ikan hias ini dengan cara autodidak atau belajar sendiri, yang kesemuanya itu berawal dari sebuah hobi memelihara ikan hias. Bapak Heru Sukoco berharap untuk kedepannya, budidaya ikan hiasnya berjalan sukses dan tetap ramai terus dikunjungi pembeli, syukur-syukur bisa tembus sampai internasional.
Sampai dengan tahun 2011, Indonesia menduduki ranking kelima eksportir ikan hias dunia setelah  Ceko, Thailand, Jepang dan Singapura. Potensi ekspor ikan hias Indonesia sendiri diperkirakan mencapai US $ 60 juta  sampai dengan US$ 65 juta atau Rp 600 miliar.
Target tahun 2012 yang dipatok Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar 850 juta ekor, dari catatan sementara sudah mencapai 978 juta ekor atau 115,16 % dari target semula.
 Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto  menjelaskan, prospek bisnis ikan hias memang sangat menjanjikan. Apalagi ikan hias Indonesia memiliki keragaman baik bentuk tubuh dan warna yang indah sehingga dipercaya dapat mengurangi stress oleh para pencinta ikan hias atau para hobbies  baik di Indonesia maupun di dunia.
Tingginya minat terhadap ikan hias Indonesia saat ini, membuat semakin banyak pembudidaya ikan ataupun para pemasar yang mengusahakan ikan hias sebagai komoditas andalan, sehingga memiliki potensi peningkatan ekonomi nasional.
Kementerian Kelautan dan Perikanan  sangat serius mengembangkan ikan hias baik air tawar maupun air laut. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kawasan Minapolitan ikan hias pada tahun 2011 yang lalu di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Potensi ikan hias Indonesia, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya sangat besar, baik dari segi produksi maupun jenisnya. Jumlah species ikan hias air tawar sebanyak lebih dari 450 species dari total 1.100 species ikan hias air tawar di dunia. Untuk ikan hias air laut Indonesia memiliki lebih dari 700 jenis species.
Potensi ini memberi peluang Indonesia akan mampu berbicara banyak di pasar Internasional dan menjadi eksportir terbesar didunia.
Perlu adanya kesatuan visi dan misi antara pemerintah, asosiasi dan stakeholder ikan hias dalam mendukung industrialisasi ikan hias dan sekaligus menggalang komitmen untuk menyusun satu strategi nasional dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar ikan hias pada tahun 2015.
Sesuai dengan arah pembangunan yang dicanangkan Kementrian Kelautan dan Perikanan , dalam pengembangan ikan hias menuju Industrialisasi perikanan budidaya akan berbasis blue economy. Konsep ini berarti, pengembangan budidaya ikan hias dengan pendekatan penguatan sistem akuabisnis secara terpadu dari mulai hulu hingga hilir. Kementerian Kelautan dan Perikanan  juga terus berupaya membangun dan menciptakan iklim berusaha yang baik. Mulai dari teknologi, produksi, sarana dan prasarana hingga masalah pemasaran. Termasuk menciptakan pola-pola kemitraan yang sehat antara pengusaha/swasta dan masyarakat pembudidaya ikan, pemasar, hobbies dan eksportir.

CINTA TANPA SYARAT



Oleh: Rizal Dzikri

            Aku hanya ingin seperti wanita biasa. Bisa menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Mereka bebas menentukan pilihan hidupnya. Jalan hidup bagi mereka luas dan bercabang-cabang, lalu tinggal mau pilih yang mana. Bisa bergaul dengan teman –teman yang lain, pergi ke tempat-tempat indah kemana pun mereka suka. Menghabiskan masa muda dengan bersenang-senang, tanpa harus diatur oleh pemikiran kolot orangtuaku.
Ya, disinilah aku. Terkurung dalam sebuah keraton nan megah. Aku terlahir sebagai putri sulung Sultan Jawa, alias keluarga ningrat. Segala kebutuhan terpenuhi, hidupku sudah berkecukupan bahkan tergolong mewah. Secara finansial aku terlindungi tapi secara batiniah aku merasa hampa. Menjadi keluarga ningrat tidak seenak yang dibayangkan. Penuh dengan aturan-aturan keluarga dan tradisi turun temurun yang harus dipatuhi. Termasuk dalam menentukan pendamping hidup.
“Besok bapak akan mengenalkanmu dengan calon suamimu,” kata bapak waktu itu seperti gemuruh yang datang tiba-tiba tanpa pertanda hujan atau awan mendung menutupi kalbu biru.
            “Dijodohkan? ucapku pada bapak dengan berlumur kerigat dingin. “Aku tak mau dijdohkan, aku tidak mengenalnya apalagi mencintainya. Belum tentu juga dia benar-benar mencintaiku. Aku sudah punya pilihan, Pak. Arman. Dialah orang yang Siti cintai bukan orang lain.”
            “Kau putuskan saja anak petani itu, ia tidak setara dengan kita. Kau hidup dengan uang buka dengan cinta,” bapak terus bersikeras pada pendapatnya.
            “Tapi, Pak, ini pilihan Siti, Siti tidak mau dijodohkan,” aku yang mulai angkat bicara membuat bapak geram dengan sifatku yang seperti preman tidak tahu unggah-ungguh.
            “Pokoknya kamu harus mau dijodohkan, turuti perintah Bapak. Tidak ada tapi-tapian lagi. Titik,” bapak berjalan keluar kamar dan melemparkan daun pintu sembari meluapkan emosnya padaku.
            Tubuhku terkulai lemas. Kemudian aku jatuh tanpa daya bersamaan dengan pupusnya harapanku untuk hidup bersama Arman. Aku menengadah kepalaku ke langit-langit kamar sembari membenamkannya pada bantal yang sudah basah oleh linangan air mata. Dadaku terasa penuh sesak seolah ribuan batu menghimpit tubuhku. Hatiku, hatiku telah hancur. Dihancurkan oleh makhluk tengil bernama bapak.
“Maafkan aku, Arman,” gumamku dalam hati sembari memeluk foto Arman. “Sepertinya hubungan yang kita jalin lebih dari tiga tahun secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Bapak harus berakhir sampai disini. Bukan karena aku tidak mencintaimu tapi karena cintaku yang dipaksakan untuk orang lain,” kini air mataku mengaliri gambar wajah oval Arman.
***
Bapakku mengenalkanku dengan seorang pria bergelar Raden Mas, juga dari keluarga ningrat. Raden Mas Waluyo namanya. Baru tiga hari kami bertemu, mereka langsung sepakat menjodohkanku tanpa mencari persetujuan denganku dan dalam waktu dekat kami akan menikah. Padahal aku belum siap. Aku masih ingin melanjutkan kuliahku. Aku ingin menjadi seorang wanita karir yang mandiri, bukan menjadi ibu rumah tangga yang selalu mengurusi rumah seperti sapi bego siap dipotong. Terlebih lagi, aku tidak suka dengan Waluyo, orangnya angkuh dan mata keranjang. Baru sehari jalan bersamanya, tangannya sudah meraba-raba tubuhku.
            “Waluyo itu anak yang baik, wajahnya tampan, setia, pengertian, pekerja keras, punya banyak perusahaan dan yang penting dia kaya raya. Engkau akan hidup bahagia dengannya,” kata bapak suatu suatu hari.
            Aku ingin memberontak, aku ingin melawan kekolotan pikiran orangtuaku di zaman yang sudah maju ini. Bukan masanya orangtua memaksakan kehendak sang anak seperti kehidupan Siti Nurbaya. Tapi, sekali lagi kujelaskan, tiada kata memberontak atau melawan dalam keluarga kami, yang ada hanya satu kata, yaitu patuh.
            Setelah melakkan serangkaian upacara adat yang panjang, kami melakukan akad nikah. Aku seperti boneka yang harus menuruti semua kemauan orangtuaku, tersenyum di depan tamu-tamunya yang terhormat dan harus melayani laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai. Hidupku penuh dengan linangan air mata.
            Setelah dua tahun menikah, kami dikaruniai seorang anak laki-laki. Aku menjadi sedikit bahagia setelah kelahiran anakku, namun kebahagiaanku tidak bertahan lama. Wajah yang tampan dan baik belum tentu memiliki hati yang baik pula. Waluyo ternyata lelaki hidung belang. Di belakangku dia sering berselingkuh dengan  wanita lain. Mungkin aku masih bisa memaafkan, tapi selingkuh itu dilakukan di dalam rumah. Ia sering membawa perempuan selingkuhannya ke rumah di hadapan mata kepalaku sendiri. Di depan anaknya sendiri. Dasar mata keranjang, buaya darat, playboy cap sandal jepit.
            Detik itu juga kami bercerai. Aku tak rela diriku dimadu. Aku tak ingin anakku melihat bapaknya yang bejat itu.
            “Kalau kita bercerai, kamu bawa barang-barangmu dan anakmu pergi dari sini. Tapi jangan bawa hartaku serupiahpun,” kata Waluyo mengancamku dengan dada terengah-engah.
            “Baik, aku tidak butuh uangmu. Sejak awal aku juga tidak mencintaimu. Aku sudah bosan hidup denganmu,” balasku menantangnya.
            “ Apa? Kalau begitu pulanglah pada orangtuamu yang gila harta itu,” usir Waluyo.
            Aku segera mengemasi barang-barangku dan membawa Raihan pergi meninggalkan istana nan megah ini dengan berjingkrak ria.
Merdeka! Itulah yang kurasakan saat ini. aku kembali ke rumah ayah dan ibu tanpa ada rasa sesal sedikitpun. Mereka begitu sedih dan menyesal. Mereka tak menyangka laki-laki dari kelurga keraton yang berbudi luhur tapi berhati bejat.
            “Tidak usah disesalkan Pak, Bu. Siti senang Bapak, Ibu, sudah tahu kebusukan Waluyo. Sekarang Siti ingin mengatur kehidupan Siti sendiri tanpa ada kekangan dari Bapak dan Ibu,” ucapku.
Bapak dan Ibu mengangguk sembari menyesali kesalahan mereka. Harta, kekuasaan apalagi wajah yang tampan tidak menjamin orang akan hidup bahagia. Yang penting adalah hati yang dapat mencintai dengan tulus.
            Setelah bercerai hidupku menjadi lebih baik. Tenang dan damai. Aku punya banyak waktu untuk membesarkan Raihan dan menikmati masa mudaku yang hilang. Orangtuaku tidak mau ikut campur lagi dalam kehidupanku, bagi mereka sekarang yang penting aku bahagia.
            Malam ini aku sangat gelisah. Wajah Arman kekasihku dulu kembali menari-nari dalam ingatanku. Entah mengapa rasa itu muncul kembali. Ah, apa mungkin Arman masih mencintaiku? Kalaupun iya, apakah ia mau menerima keadaanku sekarang ini? Itulah beberar pertanyaan yang tak terjawab sebelum akhirnya aku terlelap dalam buaian kantuk.
***
“Siti, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
Tak biasa bapak mengetuk pintuku dengan pelan. Karena penasaran, aku segera keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.
Begitu takjubnya aku setelah melihat sosok lelaki tengah berdiri tegap di hadapanku. Ya, masih dengan senyumnya yang manis seperti dulu.
“Arman,” aku seraya ingin segera memeluk Arman untuk meluruhkan rinduku. Namun, itu tak mungkin. Aku bisa didepak bapak jika aku melakukan hal yag dilarang itu.
“Siti,” dengan lembut Arman menyebut namaku, masih selembut dulu saat pertama kita bertemu.
“Secepatnya, Bapak akan mengatur pernikahanmu dengan Arman.”
Aku benar-benar tak percaya dengan ucapan bapak. Kali ini beliau benar-benar akan menikahkan aku tanpa syarat, tanpa harta dan seabrek syarat lainnya.
Aku dan Arman melegang senyum. Kemudian berjalan ke arah yang telah ditentukan Tuhan. Ya, kami memang berjodoh. Meski harus ada pahit di awalnya. Kini, telah kami dapatkan manisnya pernikahan dan berjanji akan menjadikan satu-satunya dalam hidup dengan cinta.
***








nb: jangan plagiat karya orang lain. yang plagiat aku doakan tidak selamat dunia dan akhirat. aamiin.







Almamater Biru



Karya : RIZAL DZIKRI
Marilah kita kenang tahun-tahun yang lugu
Hari-hari belajar  di laboratorium biologi
Membolos pelajaran fisika, pada bab mekanika
Suara kantuk di jam jam sejarah
Berlarian saat ulangan matematika
Hingga saling meminjam buku, penggaris, PR dan soal ulangan
Di kelas ini, kita bergutasi
Melupakan panas ujian penghabisan
Menghilang dari tugas dan remidi statistika
Lalu berhamburan ke jalan mencari komedi
Di aula yang semakin tua
Genteng yang menghitam termakan cuaca
Dinding berlumut dan berlapuk usia
Kita disambut dan dilepas ke dunia
Dengan nafas sesak menghembus haru
Tepat di depan pohon bungur berbunga ungu
Dimanakah kita enam tahun lagi berdiri? Di zaman ini
Karena sekarang ini kita adalah warga negara
Pemilik resmi masa depan dan modernitas intelektual
Tiga tahun ketajaman kita diuji
Di depan lorong-lorong kelas tempat adik-adik kita belajar genetika
Teorema phytagoras, elektromagnetik dan rezim orde baru di abad yang lalu
Ya, sekarang kita telah dewasa rupa
Kumis  jenggot dan bentol-bentol jerawat bertanda
Kita telah benar-benar dewasa
Tak pernah lupa berterima kasih pada Ibu Bapak guru
Yang percaya mengajar adalah lentera kehidupan
Yang percaya peluh keringat mengukir pengorbanan
Bahwa berangkat pagi menganyam rizki
Walau perut masih sering berbunyi
Dan air mata kadang menetes juga
Karena himpitan hati nurani
Kita dilahirkan dengan ilmu pengabdian
Di hari-hari yang sabtu
Kita masih bisa bertegur lamanya
Meski angin buritan tetap merintih
Terjepit oleh waktu yang kian memutih
Bersyukurlah! kita melewati gerbang ini dengan almamater biru

Trisnomulyo, 29 Juni 2013
11:31 WIB


Memilih Merindu

“untuk seseorang yang selalu kurindu ...."

dirimu pergi seperti senja; begitu cepat
belum sempat aku membacakan nestapa,
air mata jatuh berguguran
entah berapa lama engkau akan berlayar?
entah berapa lama aku bisa menunggu pelabuhan?
tak selamanya angin menuju darat
bahkan saat badai, hatiku bergemuruh, jiwa terombang-ambing
karena aku lebih memilih merindu

aku kembali menunggumu di pantai,
malam petang
hujan gerimis
dan kau tak ada di sampingku

TMC, 20 oktober 2012

NB: Puisi ini masuk dalam antologi rindu bertema LDR

Jadilah Anak Yang Jujur (Karya: Rizal Dzikri )

“Anak-anak, besok saya akan mengadakan ulangan matematika. Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh jika ingin mendapatkan nilai yang bagus”. Kata ibu Lasmi kepada murid-muridnya. “satu lagi, Ibu tidak ingin besok ada yang mencontek, atau berbuat curang dalam ulangan. Kalian mengerti” kata Ibu Lasmi memperingatkan. “Iya Bu..”jawab anak-anak serempak. Setelah bel pulang berbunyi, ibu Lasmi menutup pelajaran hari itu. Anak-anak berdoa untuk pulang. Satu demi satu siswa kelas empat SD Sukajaya meninggalkan kelas. Tapi tidak dengan Laras, Ihsan, Puji, Sarah, abdul dan Reno. Mereka tampak sedang belajar bersama menghadapi ulangan matematika besok. “Kalau yang ini cara mengerjakannnya bagaimana Ren?” tanya sarah kepada Reno. “Oh, soal yang ini kamu harus mengalikannya dulu baru menambahkannya. Pasti ketemu” kata Reno menjelaskan dengan gamblang. Ya, Reno memang anak yang pintar dan baik. Dari kelas satu SD ia selalu mendapat peringkat satu, tidak pernah tergeser. Jika guru menjelaskan Reno selalu mendengarkan dengan baik, dan jika ia mengalami kesulitan dengan suatu pelajaran ia tak sungkan bertanya.karena itulah semua guru di SD Sukajaya senang dengannya. Teman-teman reno pun juga banyak. Reno tidak sombong. Walaupun pintar ia tetap mau mengajari teman-temannya yang mengalami kesulitan. Tak heran jika sekarang ia dikerumunin oleh teman-temannya untuk meminta privat gratis. “Ren, kalau seperti ini benar atau salah” tanya Ihsan. Reno kemudian melihat buku Ihsan. “ya, ini sudah betul. Pintar kamu San” kata Reno memuji.Ihsan agak sedikit bangga. “Ah, ini kan berkat kamu yang mengajari aku” kata Ihsan. Ditengah keasyikan mereka belajar kelompok, Riki, Johan dan Widi datang mengganggu. Mereka berjalan dengan angkuhnya. “kalian sedang apa?” kata Riki. “Belajar kelompoklah, besok kan ada ulangan matematika. Kamu mau bergabung?” kata ahmad menawarkan. “Memangnya dengan belajar bersama Reno nilai ulangannya bisa bagus” tambah widi. . Tampaknya Widi tidak suka dengan Reno. “Ah, buat apa belajar kelompok? Tanpa belajar kelompok pun kita bisa dapat nilai bagus” kata Johan ketus. “eh, kalian jangan sombong!” sahut puji yang mulai geram dengan “Trio Sok Jagoan” di kelas itu. “Siapa yang sombong? Besok kita buktikan siapa yang mendapat nilai tertinggi. Aku pasti mendapat nilai seratus dan mengalahkan Reno”. Kata Widi dengan berapi-api. “Ayo kita pergi saja dari sini” mereka pun meninggalkan reno dan kawan-kawan yang sedang diskusi. “Memang kurang ajar mereka bertiga. Mentang-mentang anak orang kaya jadi sombong” kata Ahmad jengkel. “Sudah-sudah, biarkan saja. Ayo kita lanjutkan diskusi kita” kata Reno tetap dingin. Mereka pun melanjutkan belajar kelompok sampai sore hari. *** Ulangan pun tiba. Ibu lasmi sudah ada di depan kelas. Ketua kelas menyiapkan semua siswa untuk berdoa sebelum menghadapi ulangan. Kemudian Ibu Lasmi membagikan soal kepada semua siswa. Reno dan kawan-kawan tidak mengalami kesulitan menjawab soal itu karena mereka sudah belajar kelompok kemarin. Tidak terasa sudah satu jam ulangan berlangsung. Waktu sudah hampir habis. “Anak-anak waktu tinggal lima menit.bagi siswa sudah selesai bisa dikumpulkan sekarang” kata Ibu Lasmi memperingatkan. Dari bangku belakang terdengar suara gaduh Widi sedang mengambil pekerjaan temannya. Ibu Lasmi segera mendekati Widi. “Ada apa ini? Widi, apa yang kamu lakukan dengan pekerjaan Tono? Kenapa kertasmu masih kosong?” bentak Ibu Lasmi dengan suara keras. Semua siswa menoleh ke belakang. Widi gagap. Ia hanya menunduk malu. Tak sepatah kat pun keluar dari mulut Widi. “Sekarang kamu berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki” perintah Ibu lasmi. Widi mengikuti perintah Ibu Lasmi. Teman-teman yang lain tertawa melihat Widi sempoyongan. “Anak-anak, inilah hukuman jika kalian tidak jujur. Ibu paling tidak suka dengan anak yang tidak jujur. Lebih baik kalian mendapat nilai jelek asalkan hasil kerja sendiri” Ibu Lasmi menatap anak didiknya. “Mencontek tidak hanya merugikan orang lain tapi juga merugikan diri kita sendiri. Kita akan jadi orang malas dan enggan bekerja keras. Jika sudah besar, anak-anak yang mencontek akan menjadi koruptor. Apa kalian mau jadi koruptor?” tanya Ibu Lasmi kepada anak didiknya. “Tidak bu,” jawab mereka kompak. “Bagus, mulai sekarang jadilah anak jujur dan bangunlah bangsa ini agar terbebas dari jerat korupsi” jelas Ibu Lasmi. NB: Cerita anak ini pernah dimuat di Lampung Post pada Minggu 11 November 2012