Dua hari, terhitung dari tanggal 28 dan 29 januari 2014,
rumah kosanku diputus dengan paksa listriknya. Duh, apes. Aku liat ada kertas
pemberitahuan. Sudah beberapa bulan nungggak dan tunggakannya mahal. Dompetku
tipis seketika.
Sialnya, setelah dibayar, listriknya tetap mati. Belum ada
petugas yang benerin di rumah. samapai malam lampunya belum dibenerin. Parah,
bener-bener parah. Semua anak kosan
sudah pulang kampung, kecuali aku sama Irfan. Tapi sayangnya Irfan hari itu
juga mau pergi ke Solo. Aku bener-bener sendirian di kosan tanpa listrik dan
air.
Pengen nginep tempat teman percuma juga, mereka sudah
pulang. gak ada satu pun anak kos yang aku kenal dan bisa diajak untuk nebeng
tidur. gak ada. Itu artinya kiamat mode on. Aku buru-buru ke warung beli lilin
dan korek. Setidaknya malam ini tidak gelap gulita, ada cahaya lilin yang
terkesan romantis. Asal jangan sampai ada yang menganggap aku bakal ngepet aja.
Wakaka
Bukan hanya listrik yang mati, tapi air juga. Kehidupan cuci-mencuci baju jadi terbengkalai, aku tidak tahu mau mencuci dimana, aku tidak tahu mau mencuci piring dimana, (karena aku orangnya hemat, segalanya dikerjakan sendiri, tidak pakai laundry dan masak nasi sendiri). Bahkan untuk pipis dan mengambil air wudu pun aku kesulitan. jadi, selama beberapa waktu, aku selalu salat berjamaah di masjid, karena tidak bisa wudu di rumah.
Malam harinya, bencana lainnya datang. Hape dan laptopku
baterainya habis. Low berat. Malam-malam, setelah salat maghrib aku ke kampus
jalan kaki, duduk di koridor yang sepi dan dingin hanya untuk nge-charge.
Jauh-jauh ke kampus wifi yang biasanya hidup dan bisa diakses secara gratis,
malam itu tidak connect. Tangan-tangan ku juga menjadi sasaran empuk para
nyamuk.
Rasanya sepi banget. Mana di sini katanya sih, agak-agak
horor gimana gitu. Tidak ada seorang pun. Hanya ada penjaga kampus yang lagi
duduk di ruangannya sambil nonton tivi sama temannya. Aturan aku nge-charge di
sana. Ah,nanti malah ditanya-tanyain jadi malu. Bisa tambah runyam ini urusan.
Dari jam setengah 7 sampai jam setengah 9 aku kesepian dan
digigitin nyamuk, akhirnya aku pulang. sampai rumah nyalain lilin. Makan
ditemani lilin. Romantis, asal ada ceweknya. Kalo sendirian itu namanya miris.
Aku kayak orang pedalaman yang hidup di tengah kota. Yang lain hidup lampu,
tempatku gelap-gelapan sendiri.
Aku baca buku ditemani lilin. Burem, gak keliatan jelas, dan
pedih di mata. Ujung-ujungnya buku ditutup juga. Mau nyalain laptop atau hape
nggak jadi, takut boros baterai. Akhirnya hiburan yang bisa kudapatkan hanya
mainan bayangan dengan tangan yang dibentuk jadi kelinci, jadi buaya dan
sebagainya. Duh, nasib-nasib. Jadi home sick kalau kayak gini. Pengen liburan
asyik di Yogyakarta tapi malah tersungkur habis-habisan.
Sudah jam setengah sepuluh, aku tidur. mata nggak mau merem.
Untung kamarku dapat cahaya dari kosan tetangga, jadi nggak gelap-gelap banget.
Tapi tetep susah tidur.
****
Besoknya, siang-siang aku marah sama bapak kosan yang entah
ada dimana. Sore-sore petugas PLN datang. Dia juga bingung kenapa mati. Setelah
diselidiki ternyata bukan dicabut sama PLN tapi terjadi konsleting listrik.
Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, ternyata penyebab konsleting adalah
pompa airnya. Jadi, listriknya hanya mau hidup kalau pompa airnya di lepas.
Oke deh masalah pertama tentang listrik mati sudah hidup
kembali. Tapi masalah air mati belum menemui titik temu. Sudah dicoba dengan
segala cara, tetap tidak bisa. Pasrah. Cuma bisa marah-marah sama bapak kos
yang gak tahu dimana ia berada. Yang penting aku sms dia berkali-kali, biar
dapet respon cepat. Karena masalah air itu adalah masalah hajat hidup orang
banyak, jangan main-main dengan air boy.
Gitu dulu deh, kapan-kapan aku lanjutin ceritanya. Aku mau
nyuci dulu di kosan tetangga, sekalian mandi juga. Maklum boy belum mandi.
Salam
Rizal yang tersakiti
0 comments:
Post a Comment